Polda Jambi Gelar FGD, Gen Z Bicara Pancasila dan Masa Depan NKRi di Mata Mahasiswa

oleh -16 Dilihat
oleh

JAMBI – Polda Jambi menggelar Focus Group Discusion dengan tema mengangkat Gen Z Bicara Pancasila dan Masa Depan NKRI Dimata Mahasiswa. FGD ini digelar di Hotel Ceria Kota Jambi, Senin (31/8/26).

Pantauan halosumatera.com, Senin pagi (31/8/26), hadir dalam kegiatan Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H Siregar yang diwakili Dirintelkam Polda Jambi Kombes Pol Yuli Haryudo, SE, Dosen Jisip Unja Citra Darminto, S.IP, M.M; Dosen UIN STS Bahren Nurdin, M.A; KA prodi ilmu politik UNJA Cholillah Suci Pratiwi, S.IP, M.A;
dan peserta FGD yang berasal dari Mahasiswa UNJA dan UIN STS;

Direktur Pusakademia Kota Jambi, Mochammad Farisi,LL.M., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan FGD kali ini mengusung tema “Gen Z Bicara Pancasila dan Masa Depan NKRI di Mata Mahasiswa”.

M Farisi mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta meningkatkan semangat persatuan dan kecintaan terhadap NKRI.

” Jangan ragu menyampaikan pendapat dalam musyawarah. Utamakan mufakat, saling menghargai, dan tetap menjaga persatuan Indonesia,” ujarnya mengawali kegiatan FGD.

Dirinya mengajan mahasiswa untuk membiasakan bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan. Sampaikan pendapat dengan bijak dan jadikan persatuan sebagai prioritas bersama.

Terpisah, Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H Siregar yang diwakili Direktur Intelkam Polda Jambi Kombespol Yuli Haryudo,SE mengatakan, perkembangan teknologi dan informasi memberikan banyak peluang bagi kemajuan, namun juga dapat menjadi sarana penyebaran paham dan informasi yang berpotensi memecah persatuan.

Kata Haryudo, melalui kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman terhadap Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan, serta bersikap kritis dan bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi demi menjaga persatuan dan keutuhan NKRI.

Selanjutnya, acara dilanjutkan pemberian materi oleh narasumber oleh Dosen UIN STS Jambi Bahren Nurdin,M.A. Dalam FGD tersebut, Bahren menekankan kebebasan menyampaikan Pendapat. Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, aspirasi, maupun kritik secara terbuka sebagai bagian dari kehidupan demokratis.

” Kritik Harus disampaikan secara bertanggungjawab. Penyampaian kritik hendaknya berdasarkan fakta, menggunakan bahasa yang santun, serta tidak merugikan atau menyerang pribadi pihak lain,” ujarnya.

Dia mengajak mahasiswa untuk lebih bijak dalam menggunakan ruang digital. Media sosial merupakan sarana menyampaikan aspirasi, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana dengan menghindari penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, provokasi, dan konten yang melanggar hukum.

Selanjutnya, pemberian materi disampaikan Dosen Jisip Unja Citra Darminto, S.IP.,M.M. Menurutnya, kKebebasan berekspresi merupakan hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan kritik secara bertanggung jawab, dengan tetap menghormati hak orang lain.

Kebebasan berekspresi memiliki batas yang diatur oleh hukum, terutama untuk melindungi keamanan, ketertiban umum, kehormatan, nama baik, serta hak dan kebebasan orang lain.

” Hukum Kebebasan berekspresi merupakan hak konstitusional, bukan izin untuk melakukan penghinaan, fitnah, penyebaran informasi palsu, provokasi, atau tindakan lain yang bertentangan dengan hukum,” ujarnya.

Seterusnya, materi lanjutan disampaikan narasumber dari KA Prodi Ilmu Politik UNJA Cholillah Suci Pratiwi, S.IP M.A. menurut dia, mahasiswa dan pemuda memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ideologi Pancasila. Peran tersebut diwujudkan melalui sikap kritis, berintegritas, serta aktif menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi.

Dia menambahkan, perkembangan ruang siber menuntut mahasiswa untuk mampu beradaptasi dan menggunakan teknologi secara bijak. Ruang digital harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, kreativitas, dan penyebaran nilai-nilai kebangsaan.

” Reorientasi Pancasila diperlukan agar nilai-nilai Pancasila tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman. Mahasiswa dan pemuda harus menerapkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan dalam kehidupan nyata maupun ruang digital,” ujarnya.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan tanya jawab, pembulatan materi dan ditutup dengan sesi foto bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *